Jumat, 13 April 2012

Intuisi Kebenaran & Kepatutan

Intuisi Kebenaran & Kepatutan

Secara alamiah, sebelum akal pikirannya aktif, manusia merupakan makhluk yang bersandar pada intuisinya. Intuisi adalah proses noninderawi untuk mengenali kebenaran. Kebenaran ini adalah intuisi murni yang tidak lain adalah jiwa manusia yang fitri yaitu jiwa yang menyaksikan ke-Esa-an Tuhannya Yang Maha Esa dengan kebenaran mutlak yang terfirmankan dalam QS 7:172. Karena itu, jiwa yang selalu dimurnikan akan mempunyai intuisi tentang kebenaran maupun kepatutan yang semakin tajam dan semakin dapat dipercaya. Tidak mengherankan kalau Nabi Muhammad SAW pernah berkata kalau intuisi orang beriman patut diperhatikan karena mengandung kebenaran azali yang memang sulit untuk dibuktikan dengan kaidah sebab akibat maupun aturan dan kaidah hukum yang disepakati manusia. Karenanya intuisi orang beriman dapat dipercaya. Bahkan dalam banyak hal hadits Nabi yang menyatakan kalau Umat Islam harus meminta fatwa kepada hatinya merupakan ungkapan lain yang berkaitan dengan intuisi murni kaum beriman ini. Dalam bahasa populer kitapun mengenal ungkapan dalam bahasa Inggris yang sering dinyatakan oleh berbagai kalangan, baik pebisnis, artis, seniman maupun manusia biasa yaitu “follow your hearth”. Intuisi bisa muncul bukan sebagai hasil olahan persepsi dan kognisi sistem sensorik inderawi manusia semata. Tetapi, ia dapat muncul sebagai hasil dari dorongan internal yang muncul tiba-tiba dari suatu titik kedalaman diri manusia yang biasa kita sebut sebagai hati nurani. Nurani manusia muncul karena terbukanya tabir kesadaran atas waktu. Kesadaran atas waktu disini bersifat terbatas karena menyangkut rekayasa manusia atas kehidupan melalui peran penggunaan intuisi dan logikanya berupa pengetahuan untuk menerima perubahan-perubahan yang terus menerus. Umumnya keterbukaan tabir ini karena suatu sebab yang khas, baik yang dipahami maupun yang tidak dipahami. Sifat pembukaan ini biasanya bersifat “kejutan” atau “shock” atau hasil pembelajaran dan pelatihan yang konsisten dengan bimbingan dan pedoman yang benar dimana seseorang bisa memetik suatu hikmah dalam kadar pengalaman dan pemahamannya masing-masing.
Puncak pengalaman berkesadaran tertinggi dari hasil proses intuitif subyektif ini lazimnya berupa suatu penyingkapan. Penyingkapan adalah cadar kesadaran salik atau murid penempuh jalan ruhani
yang mulai terbuka. Dalam bahasa kaum sufi disebut kasyf. Dalam penyingkapan ini, maka ia mengalami suatu penyaksian dengan menyaksikan asma al-Haqq sebagai Realitas Absolut, yang memiliki Wewenang dan Kekuasaan yang tidak dapat dicegah, yang berlaku pada semua makhluk ciptaanNya. Sebagai contoh, tasa takut akan kematian pada akhirnya menjadi salah satu pendorong nyata bahwa ada suatu wilayah tak dikenal yang kelak akan dimasuki oleh manusia. Baik terpaksa maupun tidak, datangnya kematian menyebabkan manusia mulai bertanya kapan hal itu tiba dan apa yang terjadi setelah kematian? Semua proses itu berjalan secara alamiah dan intuitif pada sebagian besar manusia yang mulai berpikir dengan intensif karena kematian merupakan salah satu peristiwa yang dapat dilihat sehari-hari, dapat terjadi kapan saja, dengan cara yang tidak dapat diduga, tidak memandang tempat maupun waktu, dan tidak memandang apakah seseorang itu dalam keadaan sedang berniat baik ataupun buruk. Meskipun intuisi pada awalnya sangat berpengaruh dalam tindakan manusia, dalam perkembangannya ternyata manusia pada umumnya lebih didominasi oleh akal lahiriahnya. Hal ini terjadi karena akal bersentuhan langsung
dengan pengekangan, kesadaran atas adanya keterbatasan, ikhtiar untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
biologisnya di dunia, dan berbagai kenyataan lain yang sifatnya membatasi tindakan guna pemeliharaan dan kontinuitas kehidupan itu sendiri. Jadi, akal lahiriah bersifat menjadi pengekang atau tali kendali supaya intuisi tidak berkembang melampaui batas daya dukung dan syarat kehidupan. Tanpa menggunakan akal,
manusia yang ditakdirkan menjadi khalifah dengan sebutan “al-Insaan Fii Ahsaani Taqwim” kemungkinan malah menjadi “penunggang kuda liar nafsunya sendiri” atau “Ya’juj Ma’juj” dalam Bahasa Qur’ani atau “Yajou-Majou” dalam bahasa China sebagai ungkapan tentang makhluk yang tidak mampu mengemban amanat Tuhan, dimana sesungguhnya ia ditakdirkan menjadi penyingkap hubungan antara makhluk dan Pencipta. Karena itu, ia bukan menjadi khalifah tetapi disebut sebagai pembuat kerusakan di muka bumi alias “asfaala safiilin”. Dalam bentuk yang lebih filosofis dan konseptual, dari akal lahiriyah lahirlah kemudian filsafat rasionalisme, materialisme, hedonisme, ateisme, dan berbagai aliran filsafat lainnya, yang dihasilkan dari pemikiran spekulatif akal karena keterikatannya dengan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah manusia. Pada titik tertinggi, agama pun lahir dari pemahaman akal pikiran dengan pemaknaan tertinggi dimana akal pikiran akhirnya harus berserah diri di hadapan Tuhan Yang Maha Esa seperti pengalaman Nabi Ibrahim a.s (Qs 2:131). Dalam banyak hal Agama Islam dengan kitab sucinya yaitu al-Qur’an adalah agama yang mengoptimalkan sintesis intuisi dan rasionalitas sebagai intrumen penting bagi manusia untuk mengenal dan sampai kepada pemahaman atas seluruh Kehendak Allah, Rabbul ‘Alamin. Karenanya, Umat Islam yang tidak mengembangkan potensi intuisi dan akal lahiriyahnya berdasarkan pedoman yang bena  yaitu Al Qur’an dan “Sunnatulrasul yang selaras dengan isi Al Qur’an” dapat tersesat dan jauh dari apa yang dimaksudkan Allah SWT sebagai makhluk yang berperan sebagai Khalifah-Nya di  muka bumi ini. Mudah-mudahan kita tidak termasuk pada kelompok yang tersesat ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar